Thursday, October 29, 2015

Keluar Dari Jerat Kredit Macet [Bank]

Tulisan ini melanjutkan pembahasan lalu tentang Solusi Riba Menurut Al-Qur'an, menjelaskan Tahap 6 yang bersumber dari #Inspirasi_Qs.2:280

KELUAR DARI JERAT KREDIT MACET [BANK]
By Fitri Gustama, Warga Kampoeng SyaREA World #08

Tidak dapat dipungkiri, memiliki penghasilan entah dari bekerja ataupun dari bisnis, jika belum-belum cicilan sudah menanti, tentu akan berbenturan dengan kebutuhan harian yang harus dipenuhi.

Seringkali juga, kita memiliki pengeluaran yang tidak terduga, yang mau tidak mau, kita harus membayarnya.

Dalam jangka waktu tertentu, akibatnya, salahh satu harus kalah. Entah keperluan yang dikorbankan, ataupun angsuran yang harus macet sana sini.

Jika ingin lancar, biasanya berusaha menutup lubang kekurangan itu dengan utang baru.

Yang paling parah, orang2 ini mencari utang untuk menutup angsuran. Ini adalah kekonyolan yang paling sering dilakukan.

Orang-orang ini sangat menyadari, bahwa mereka sebenarnya memiliki penghasilan, tetapi memang penghasilannya yang sekarang tidak akan mampu menutupi beban angsuran setiap bulan. Sehingga, jika mau jatuh tempo, kepanikan yang akhirnya dirasakan.

Entah dengan menjual barang apapun yang dimiliki, cari utangan, atau menggadaikan BPKB motor/mobil sekedar menyambung angsuran agar jangan sampai macet kelamaan, karena takut nanti berakibat Blacklist. Jika anda dalam posisi ini, saya yakin anda akan terbiasa dengan ancaman pihak bank / debt collector yang mengancam nama kita bakalan di blacklist oleh BI.

MINDSET yang harus anda bangun adalah DIBALCKLIST adalah SEBUAH KEBERUNTUNGAN. Karena dengan diblacklist, maka anda tidak akan ada peluang untuk meminjam bank lagi dimasa depan.
Bahkan, saya sangat menyarankan agar anda MEMBLACKLIST diri sendiri.
Saya akan menjelaskan dengan contoh, seperti biasanya agar mudah untuk dipahami.
Saya ada seorang kawan yang memiliki bisnis percetakan.

Hutangnya ada beberapa ratus juga, dengan beban amgsuran sebulan sekitar Rp 10 juta.
Setiap bulan, hasil dari percetakan, keuntungannya dikumpulkan, unntuk bayar angsuran.
Yang menjadi masalah adalah, pendapatan bersih dari hasil percetakan yang dulu bisa belasan juta setiap bulan, sekarang ini hanya menghasilkan keuntungan Rp 6 -7 juta sebulan.

Dengan kondisi ini, tentu ada defisit anggaran, untuk nyicil saja masih kurang Rp 3 -4 juta sebulan. Itu belum termasuk kebutuhan hidup untuk keluarganya.
Dengan terjadinya defisit pendapatan ini, akibatnya seringkali modal yang ada semakin tergerus, yang seharusnya bisa untuk stok barang, akhirnya digunakan untuk nyicil dulu.

Dan anda tahu akibat dari keputusan itu? karena stok barang yang semakin menipis, akhirnya banyak order yang akhirnya lepas, karena kawan saya ini tidak bisa menyediakan. Sementara stok juga tidak ada.

Sebenarnya ordernya cukup banyak, tetapi kendala pengadaan barang menjadi masalah yang seolah tak terpecahkan. Semakin hari, pendapatan bukannya semakin meningkat, malah pendapatannya semakin menurun, yang berimbas, aset-aset dan modal semakin cepat tergerus angsuran.

Jika hal ini terus terjadi, dalam waktu tidak lama, akan jelas sekali, bahwa usahanya akann bangkrut, dan utangnya bakalan macet total.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh kawan saya ini?

1. BLACKLIST diri sendiri.

Maksudnya adalah, dengan menghentikan segala macam cicilan.
Jangan pikirkan resiokonya. Persiapkan saja mental untuk menghadapi antrian debt collector. Persiapkan juga mental untuk ancaman sita oleh pihak perbankan.

Mengapa harus berani menghentikan cicilan sama sekali?
Logikanya, dengan kondisi sekarang saja, ternyata kawan saya ini bisa setiap bulan mendapatkan uang hingga 10 juta. Maka dengan menghentikan segala macam cicilan, maka akan ada TAMBAHAN MODAL sebesar Rp 10 juta setiap bulan.

Dan tambahan modal, artinya meningkatnya kemampuan teman saya ini untuk menghandle pesanan-pesanan yang selama ini tidak dapat dihandle.

Jika kredit dimacetkan 4 bulan saja. maka sudah ada tambahan dana sekitar Rp 40 juta untuk memberikan insentif pada bisnis yang dikebanyakan orang jika ada pada posisi teman saya solusi kekurangan modal adalah dengan mengambil utang baru di bank yang berbeda.
Harapannya adalah, bank yang lama cicilannya tetap jalan, dan uang yang dari bank baru nisa untuk menyuntik dana segar pada bisnis.

Mereka lupa, jika dengan meminjam dana ke bank yang baru, artinya ada beban angsuran baru.

Solusi semacam ini hanya akan berujung kepada kegagalan.
Jangan menambah masalah dengan meminjam uang di bank lainnya.
Jangan lupa, masalah anda adalah utang, bagaimana mungkin solusinya adalah dengan utang lagi? Bukankah itu sama saja dengan menambah masalah?

Memacetkan kredit bukanlah berarti kita ngemplang / tidak mau membayar.
Memacetkan itu tujuannya agar kita bisa bernafas untuk bisnis / usaha kita.
Jadi utamakan dulun BISNISNYA, jangan utamakan UTANGNYA.

2. NEGOSIASI

Jika angsuran anda cuma telat sebulan dua bulan, dijamin ga bakalan anda bisa bernegosiasi dengan pihak perbankan.
Selama anda masih kelihatan ada "uangnya", entah dari mana, maka anda akan disedot habis2an, tanpa pandang kasihan.

Beda lagi jika utang anda sudah macet lebih dari 3 bulan, maka pihak bank yangg akan panik. Pegawai bagian kreditnya dimarahi atasan, dan si atasan dimarahi atasannya dan seterusnya.
bank itu dibatasi oleh ambang kredit macet sekian persen, jika melebihi dari ambang bayas itu, maka ancaman tidak naik pangkat atau tidak naik gaji bakalan mengancam para pegawai bank tersebut.

Kalau anda sudah macet cukup parah, misal diatas 4 bulan, maka biasanya bank akan mulai 'melunak" dengan memberikan opsi restrukturisasi pinjaman.
hati2, ini juga masing mengandung jebakan, anda hanya akan ketipu kedua kali jika menerima restrukturisasi yang ditawarkan. Biasanya mereka akan menawarkan perpanjangan masa angsuran, sehingga cicilan jadi lebih kecil.

Restrukturisasi semacam ini biasanya banyak yang tergiur dan akhirnya jatuh lagi kedalam masalah yang sama. Lalu apa yang harus dilakukan?

Negosiasi, minta CUTI ANGSURAN DAN CUTI BUNGA.
Dijamin, permintaan anda akan ditolak.

Ketika ditolak, biarkan saja, jangan goyah. Biarkan macet lebih panjang lagi, sementara anda lebih baik konsentrasi pada usaha / bisnis yangg dilakukan, bukankah sekarang anda memiliki modal tambahan tanpa utang setiap bulan, yaitu yang seharusnya buat nyicil, bisa digunakan untuk modal usaha?

Tetapi, jika utang anda sudah macet diatas 6 bulan, biasanya bank akan melunak mau memberikan Cuti Angsuran + Cuti Bunga untuk jangka waktu tertentu.

Kisaran cuti ini antara 1-2 tahun.
Tergantung negosiasi anda.
Cuti angsuran itu juga biasanya mereka masih memberikan syarat dengan membayar sejumlah uang "tunggu".

Nah, kalau uang tunggunya terlalu tinggi, negosiasi lagi. Kalau tidak diterima negosiasinya, biarkan lagi. Anda konsen bisnis aja.

Jika uang tunggunya mau menurunkan dan anda mampu membayarnya, silakan bayar, dan anda bisa tenang untuk tidak nyicil dan tidak kena bunga selama 1-2 tahun.

Saya sendiri dulu mendapat "cuti" selama 2 tahun. Ada kawan saya yang cuti 1 tahun, ada yang 1,5 tahun. Jika sudah dapat cuti, jangan pikir utangnya, fokus saja mengembangkan usaha sekuat tenaga, agar kelak setelah cuti habis, anda bisa langsung melunasinya, tanpa harus mengangsur kembali.

Saya sendiri, dulu selesai cuti, uang sudah terkumpul dan langsung saya tutup.
Kunci untuk menggunakan teknik ini adalah harus memiliki mental yang kuat.
Fokus pada sokusi, dan bukan pada masalah.
mengutamakan usaha / bisnis ketimbang membayar utang.
Siap dengan segala macam resiko.

Ada seorang kawan lagi yang kasungya persis dengan kasus diatas. Dia memiliki cicilan hanya kisaran Rp 5 juta. Pendapatan saat ini hanya kisaran 2 juta.

Salah satu usahanya adalah dengan jualan Ice Cream dengan Booth ditempat2 keramaian.

Ketika dia membuka cabang ternyata 1 cabangnya mampu menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp 1,2 juta/bulan. Sehingga dengan logika sederhana, dengan memiliki 3 cabang saja, maka semua beban angsurannya akan ketutup.

Yang menjadi masakah adalah, untuk membuka 1 cabang Ice Cream dibutuhkan dana sekitar 2 juta. Sementara dia tidak memiliki uang tersebut ditabungan.
maka jika dia menggunakan rumus diatas, jika saja sebulan dia tetap menganggarkan Rp 5 juta yang seharusnya buat cicilan untuk usaha, maka dalam 1 bulan, dia sudah bisa punya 2 cabang. Dan dibulan ke-3 dia sudah bisa punya 6 cabang.

Estimasi penghasilannya adalah:
6 cabang x Rp 1,2 juta = Rp 7,2 juta.
Ditanbah penghasilan dari usahanya yang awal Rp 2 juta. Maka pendapatannya bisa mencapai ,2 juta.
Itu hanya dengan memacetkan angsuran selama 3 bulan saja.

Tetapi, kebanyakan orang akan berfikir lebih baik utang bank lain, sehingga bisa buka cabang yang hasilnya bisa buat mengangsur ke-2 bank tersebut.

Apakah teknik seperti itu akan berhasil? sepanjang hidup saya bertemu orang2 semacam ini, yang melakukan kebodohan ini, mereka semuanya gagal.

Anda bisa belajar dari pengalaman si menttor tersebut. Sehingga apa yang anda lakukan lebih tepat sasaran dan menghasilkan pendapatan yang optimal.

Wassalam...

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum...strategi memacetkan kredit/angsuran apakah bs berlaku utk seorang karyawan yg tiada usaha tambahan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waalaikumsalam, bisa. mulai hidup sederhana, kurangi gaya hidup. tinggalkan hidup konsumtif lalu mulai hidup produktif. seorang karyawan bisa juga hidup secara produktif

      Delete